Iman dan Ketenangan
Pertanyaan :
Bagaimana hubungan iman dan ketenangan hati dalam pandangan
Al-Quran? Sebutkanlah surah dan ayat yang berkenaan dengan hal ini?
Jawaban Global :
Iman secara leksikal bermakna kepercayaan sebagai lawan dari
pendustaan (pengingkaran). Dan secara teknikal, iman berarti pengakuan dengan
lisan, ketetapan dan kepercayaan dalam hati, dan beramal dengan tindakan
anggota badan. Namun “ketenangan hati” secara bahasa bermakna ketenangan dalam
hati setelah kebimbangan dan kekhawatiran.
Perbedaan Iman Dan Ketenangan Hati
Terkadang manusia mungkin saja dengan perantara argumen dan
demonstrasi (burhan) menyakini sesuatu, dan dengan argumen ini dapat diterima
secara rasional, namun tidak memberikan ketenangan di dalam benak kita. Tetapi
jika hal itu memberikan keyakinan di dalam hati maka keyakinan ini akan
menyebabkan ketenangan hati dan akan menetap di hatinya.
Berkenaan dengan ini terdapat sebuah riwayat seseorang
bertanya kepada Imam Ridha As, “Apakah dahulu dalam hati Ibrahim As terdapat
keraguan dan kebimbangan?” Imam Ridha As menjawab, “Tidak, melainkan Ibrahim As
(dalam keadaan) yakin dan meminta kepada Allah swt agar ditambah keyakinannya.”
Jawaban Detil :
Iman secara leksikal adalah kepercayaan lawan dari
pendustaan (pengingkaran)[1]. Dan secara teknikal, iman berarti pengakuan
dengan lisan, ketetapan dan kepercayaan dalam hati, dan beramal dengan tindakan
anggota badan.[2] Namun “ketenangan hati” secara bahasa bermakna ketenangan di
dalam hati setelah kebimbangan dan kekhawatiran.[3]
Perbedaan Iman dan Ketenangan Hati
Terkadang manusia mungkin saja dengan perantara argumen dan
demonstrasi (burhan) menyakini sesuatu, dan dengan argumen ini dapat diterima
secara rasional, namun tidak memberikan ketenangan di dalam hati kita. Tetapi
jika hal itu memberikan keyakinan di dalam hati maka keyakinan ini akan
menyebabkan ketenangan di dalam hati dan akan menetap di hatinya.
Dalam kondisi seperti ini tidak akan terdapat segala bentuk
waswas dan keraguan yang muncul dalam benak, misalnya: kita semua yakin bahwa
orang mati tidak dapat melakukan apa-apa dan hal ini dapat kita percayai dengan
argumen dan dalil, namun hal itu tidak sampai ke dalam hati kita, oleh karena
itu mungkin saja seseorang takut terhadap orang mati khususnya di malam hari.
Akan tetapi ada orang orang yang pekerjaan mereka berhubungan dengan orang
orang mati, mereka tidak akan memiliki ketakutan seperti ini.[4]
Oleh karena itu ketika seseorang telah sampai pada kedudukan
(maqam) syuhud (penyaksian hakikat) maka hatinya akan tenang. Nabi Ibrahim As
juga memiliki kesempurnaan dan kemurnian iman terkait dengan menghidupkan
kembali orang orang yang sudah mati, dan tidak terdapat secercah keraguan di
dalam hati, akan tetapi ia berharap sampai kepada ketenangan hati.
Berkenaan dengan ini terdapat sebuah riwayat seseorang
bertanya kepada Imam Ridha As, “Apakah dahulu dalam hati Ibrahim As terdapat
keraguan dan kebimbangan?” Imam Ridha As menjawab, “Tidak, melainkan Ibrahim As
(dalam keadaan) yakin dan meminta kepada Allah Swt agar ditambah
keyakinannya.”[5]
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Ibrahim As memiliki
keraguan kalau demikian adanya kita juga boleh memiliki keraguan dan apabila
kita tidak memiliki iman dan keyakinan maka tidak akan ada cela dan aib yang
dapat ditujukan kepada kita.
Disebutkan dalam sebuah riwayat: “Seseorang mengirim surat ke Imam Musa
Al-Kazim As dan mengatakan, saya dalam keadaan keraguan, sebagaimana Ibrahim As
juga berkata kepada Allah Swt, “Perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau
menghidupkan orang mati”. Saya juga menginginkan engkau memperlihatkan sesuatu
kepadaku.” Imam As menjawab dengan menulis, “Sesungguhnya Ibrahim As adalah
seorang beriman dan menginginkan kadar imannya bertambah, akan tetapi engkau
dalam keadaan ragu dan tidak terdapat kebaikan keraguan pada manusia.”[6]
Oleh karena itu, manusia haruslah memiliki keimanan dan
keyakinan dalam permasalahan prinsip-prinsip agama (ushuluddin), dan untuk
mendapatkan keimanan dan keyakinan terdapat jalan-jalan argumentasi dan
demonstrasi (burhan) yang tidak lagi menyisakan keraguan bagi manusia. Dan
untuk menjawab pelbagai syubhat (kesamaran) yang dijumpainya ia dapat merujuk
kepada ulama agama.
Allakulihal, dengan sedikit cermat dan pendalaman terhadap
ayat Al-Quran maka hal itu akan menghantarkan kita sampai kepada hakikat ini
bahwa yang dapat menghilangkan kecemasan-kecemasan ruh dan jiwa adalah
penguatan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Adil, dan juga
keimanan terhadap hari kiamat, surga dan neraka, amal-amal ibadah seperti
shalat sehingga manusia dapat sampai kepada kedudukan ini.
Ketika seorang Mukmin telah merasakan bahwa Allah Swt telah
memberikan rahmat-rahim dan melindunginya, maka tidak akan ada lagi ketakutan,
kecemasan, kegelisahan di dalam hatinya, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan
janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling
tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.[7] Allah Swt pada ayat ini mengatakan: Jika
kalian bersama Allah, semua kekuasaan bumi dan langit berada dalam kekuasaan
ikhtiar kalian, dan Allah Swt mengetahui kebutuhan-kebutuhan dan
kesusahan-kesusahanmu, dan mengetahui kegigihan, ketaatan, dan penghambaanmu.
Dengan bibit-bibit keimanan kepada Ilahi seperti ini
bagaimana mungkin tidak muncul ketenangan hati dalam diri manusia? Tentu saja
watak dan makrifat ini akan menutup perkara-perkara yang menimbulkan kecemasan
dan kebimbangan ruh pada jiwa dan hati
manusia.[iQuest]
[1]. Muhammad bin Mukaram Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, jil.
13, hal. 21, Dar Shadra, Beirut, Cetakan Ketiga, 1414 H.
[2]. Kulaini, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 27, Hadis 1, Dar
al-Kitab al-Islamiyah, Teheran, 1365 S, Imam Shadiq As bersabda, “Iman adalah
pengakuan dengan lisan, di ikat di dalam hati, dan beramal dengan keyakinan.”
Untuk telaah lebih jauh ihwal makna iman
dan perbedaannya dengan Islam dan ilmu silahkan lihat indeks “ Syarat-syarat
Islam dan Iman,” Pertanyaan No. 1311 (Site: 1343) dan “Perbedaan Iman dan Ilmu, Pertanyaan No. 5382
(Site: 5651)
[3]. Husain bin Muhammad, Raghib Isfahani, Tarjamah wa
Tahqiq Mufradât Alfaz Qurân, Khusrawi, Gulam Reza, Intisyarat Murtadhawi,
Teheran, Cetakan Kedua, 1375 S.
.[4] Nasir Makarim Shirazi, Tafsir Nemune, jilid 2, hlm 304,
terbitan Darul kitab Al Islamiyah, Tehran, cetakan pertama, 1374 HS.
[5]. Abd Ali bin Jumah Arusi Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, jil.
1, hal 330, terbitan Muasasah Al Tarikh Al Arabi, Bairut, cetakan pertama, 1412
H.
[6]. Ibid, jil.1, hal. 336.
[7]. (Qs. Ali Imran [3]: 139)
Tips mudah cara membuat hati dan pikiran kita tenang damai dan bahagia adalah:
1. Menerima
apapun keadaan dan kondisi kita, dan menyadari bahwa
semua yang terjadi dan kita alami adalah hasil dari undangan KITA
SENDIRI, sehingga kita lebih banyak berinstrospeksi diri tanpa
menyalahkan NASIB dan orang lain.
2. Menyerahkan
sepenuhnya hasil dan usaha atau apapun yang telah
kita lakukan kepada sumber dari segala sumber yaitu Tuhan dengan
sepenuh hati kita (tawakal / ikhlas).
3.
Mensyukuri segala berkat yang kita terima dengan bahagia,
menurut RB Sentanu caranya dengan menyatakan hormat dan terima kasih
Anda pada semua hal yang Anda lihat,dengar,dan rasakan dirumah
Anda,barang-barang milik Anda, uang yang Anda miliki dll.
4.
Memilih informasi yang membuat perasaan menjadi enak dan
bahagia, selektif terhadap informasi yang kita terima, kalau perlu puasa
berita misalnya.
5. Lakukan semua dengan
bahagia.
Selamat mencoba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar